Dukungan Optimis untuk Relawan Jokowi-JK, Salam 2 jari #AkhirnyaPilihJokowi

Yogyakarta, 04 Juli 2014


Bagi pembaca blog saya, tulisan ini mungkin diluar kebiasaan dari saya untuk menulis tentang politik. Anda mungkin bisa mencari topik-topik dalam blog ini kebanyakan saya tulis mengenai implementasi pengelolaan Human Resources & Management.  Namun semoga hal ini tidak mengurangi esensi dan kapabilitas blog ini dalam berbagi informasi dan pembelajaran diri secara sederhana dan berkualitas.  Bukan berarti saya mempengaruhi, menyinggung, ataupun provokatif secara “jurnalistik”, namun saya lebih berbagi pemahaman melalui analogi dan tujuan nyata dari seseorang yang memiliki kemampuan memimpin untuk negeri tercinta ini, INDONESIA.

Mungkin anda bertanya, sejauhmana wujud kecintaan saya terhadap Indonesia, yang notabenenya saya seorang praktisi HR di bidang Industri? bukan dari birokrat, kelembagaan negara ataupun militer.  Apakah tidak menjadi bumerang bagi esensi tulisan ini?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja saya akan menggarisbawahi, kontribusi bagi Indonesia terlepas di luar kursi-kursi ranah birokrasi, memiliki jabatan dan kekuasaan, berpolitik ataupun duduk menjadi wakil rakyat, bekerja di perusahaan pemerintah, ataupun menjadi tim sukses calon tertentu untuk menguatkan posisi kita. Bagi saya langkah nyata diluar kontribusi yang tadi saya sebutkan itu, mungkin kata “RELAWAN” Indonesia yang dapat mewakili kita semua untuk semua kalangan dalam memberikan kontribusi positif bagi negeri ini di masa depan. Mungkin anda akan dengan mudah mencari beberapa pejabat di setiap daerah di Indonesia dengan kantor tersebar, namun saya yakin akan sulit menemukan para relawan-relawan yang bergerak serta tersebar di bumi pertiwi Indonesia.  Mereka mencintai negeri ini dengan caranya sendiri, ada yang mendukung dan ada yang mengkritisi. Tidak ada yang memerintahkan, tapi mereka TERGERAK.  Itulah “resources” sesungguhnya yang dimiliki negeri ini.

Salam relawan Indonesia, ijinkan saya untuk menyapa kerja nyata anda hari ini dan untuk perubahan indonesia di masa mendatang. Semoga Alloh me-ridhoi niat baik dan keikhlasan saudara semua.

Pesan pertama yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah gunakan hak pilih anda untuk menyoblos dalam PILPRES 09 Juli 2014.  Gunakan suara anda dengan tepat untuk kandidat yang benar-benar “ada” kualitas meskipun masing-masing masih diluar kesempurnaan.  Jika sampai hari ini anda belum menentukan pilihannya, mulailah cermati dari setiap visi dan misi kandidat dengan rencana nyata dalam program-program kerja yang realistis. Jangan terpengaruh isu-isu negatif, like & dislike, pesimisme, ataupun ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi kenyataannya.  Semua itu akan coba saya jabarkan secara obyektif dalam tulisan ini dengan hal-hal yang positif secara realistis.

Dalam pilihan PILPRES nanti, Insya Alloh saya mantapkan diri pada pilihan nomer urut 2 yaitu pak Jokowi & JK. Hal ini mungkin sedikit berbeda dari pandangan awal saya tentang sosok tersebut dibandingkan kandidat lainnya. Tapi itulah PROSES, tanpa adanya perubahan dalam diri maka proses tidak akan bermakna (sedikit pepatah).  Keputusan pilihan saya bukan berarti saya tidak tertarik terhadap pasangan lain ataupun like and dislike.  Saya katakan TIDAK.  Saya bukan korban dari kampanye negatif, ataupun kampanye hitam yang marak di media-media.  Saya termasuk orang yang yang menyerukan kampanye positif untuk dunia maya.  Anda bisa melihat saja di postingan-postingan media sosial saya (FB, TWITTER, dll) pasti saya selalu memberikan hesteg #mariberubah #stopkampanyehitam #kampanyepositif. Saya mencoba terbuka dengan pemahaman yang realistis tanpa terpengaruh pada informasi-informasi yang bersifat sempit tersebut.
Tentu saja dalam tulisan ini saya tidak akan mengungkap kejelekan pasangan lain yang tidak menjadi pilihan saya.  Terlepas dari isu SARA, HAM, 1998, Boneka, Sosial, Media, fitnah, Sumpah Jabatan, Pencitraan, dll.  Saya nilai itu sebuah fenomena baru dalam menyikapi pesta demokrasi saat ini.  Tapi menurut saya pribadi, hal tersebut sudah mencederai makna demokrasi yang sesungguhnya.  Dan apabila anda menentukan pilihan capres anda atas dasar alasan-alasan tersebut di atas, mungkin anda termasuk bagian dari demokrasi yang tidak sehat.  Otomatis masa depan Indonesia jadi tidak sehat.  Coba renungkan, dan refleksikan diri sejenak, dan #mariberubah.

Saya mencoba menuliskan hal-hal realistis yang terdapat pada pasangan pak Jokowi & JK secara obyektif. Saya sadari bahwa pak Jokowi memang seorang pemimpin yang tidak sempurna.  Latar belakang dari sipil/rakyat biasa bukan dari sejarahwan ataupun birokrat, latar belakang pendidikan yang bukan dari perpolitikan, perawakan kurus, wajah ndeso, bukan ketua partai, tidak terlalu cerdas, tidak fasih bahasa inggris, belum selesai menjabat gubernur, bukan dari tokoh islam, bayang-bayang PDIP, dicibir karena pencitraan, dan lain-lain.  Tetapi saya tidak berpikir  sesempit itu, saya lebih berpikiran terbuka dalam melihat peluang-peluang yang bisa direalisasikan dengan visi dan misi kedepan nantinya yang diperjuangkan Pak Jokowi & JK.  Mungkin karena profesi saya seorang psikolog, maka  saya mencoba menerapkan konsep perspektif dari psikologi positif Martin Seligman (2002) yang mengungkapkan bahwa orang optimisme adalah seorang yang berpikiran terbuka sedangkan pesimisme adalah hal sebaliknya.  Jika di dalam diri kita diisi oleh emosi positif akan masa depan, mencakup keyakinan, kepercayaan, kepastian, harapan, serta rasa optimis, maka kita akan terbuka melihat kekurangan-kekurangan yang dimiliki seseorang yang sebenarnya dapat ditambal dengan potensi lainnya yang bisa dikembangkan melebihi kapasisitasnya saat ini karena didukung oleh orang-orang yang optimis. Namun sebaliknya jika pikiran kita diisi oleh hal-hal yang bersifat negatif tanpa melihat sisi positif akan potensi seseorang tersebut maka yang terjadi adalah pesimisme, sikap apatis, kebencian, dll dan justru mendorong perilaku-perilaku yang menguatkan untuk bersikap negatif dan anda terus terjebak dalam retorika sempit terkait keburukkan itu. Dan obyektivitas anda terganggu dengan retorika keburukan itu. #mariberubah.

1.  Latar belakang siapa jokowi itu?
Di media-media banyak yang mempergunjingkan tentang siapa sosok jokowi itu? ada yang membahas dari asal suku, diskriminatif agama, antek asing, bukan dari keluarga bangsawan/sejarahwan, dll.  Namun yang saya hormati dari beliau adalah berlatar belakang rakyat sipil.  Kenapa saya hormati? karena harkat dan martabat kita sama sebagai makhluk sosial dan berwarga negara.  Justru beliau berangkat dari rakyat sipil/biasa jadi mudah diterima oleh sebagian masyarakat kalangan bawah.  Pendekatan yang dilakukannya sangat tepat, yaitu “people oriented” bukan “trasaksional”.  Beliau terjun langsung di masyarakat dengan melihat, mendengar dan berdialog secara langsung di lapangan terkait permasalahan-permasalahan sosial sebenarnya.  Dan itu tindakan yang sangat realistis.  Tindakan nyata di lapangan dalam memetakan kebutuhan masyarakat pada khususnya.  Bukankah itu pencitraan kepada rakyat? sebelum menjawab itu coba anda bandingkan dengan program-program kemandirian di kampus-kampus.  Apakah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu pencitraan mahasiswa? Apa yang dilakukan Pak Jokowi sama dengan program KKN yang dilakukan oleh mahasiswa.  Salah satu tujuan kecil KKN adalah merancang suatu program kemasyarakatan yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai bentuk pengabdian.  Untuk bisa merancang program yang sesuai kebutuhan tentu saja para mahasiswa terjun langsung di masyarakat, melakukan asessmen, melakukan wawancara, bermusyawarah untuk menentukan sebuah program.  Dengan begitu maka program dapat tepat sasaran dan dapat berjalan dengan bantuan dan pemberdayaan masyarakat.  Apakah para mahasiswa itu pencitraan kepada masyarakat?
Pak Jokowi melakukan dialog dan terjun langsung karena ada target rencana pembangunan yang bisa dicapai secara nyata, tepat, realistis dan masyarakat mendukung.  Sehingga atas aksi yang dilakukannya tersebut muncul istilah “blusukan”.  Oleh karena itu “kerja nyata” di masyarakat itulah esensi dari “blusukan” dengan program kerja yang tepat sasaran tanpa ada sekat birokrasi. #mariberubah.

2.  Visi & Misi Jokowi-JK?
Saya membaca visi & misi yang diusung oleh pak Jokowi & JK bukan berarti sebuah gagasan yang luar biasa, bukan hanya itu. Namun visi & misi yang digagas oleh pasangan tersebut lebih mudah diterima dan dicerna oleh seluruh kalangan masyarakat, termasuk non birokrasi.  Dalam depat Capres pun jelas secara nyata beliau mengungkapkan secara sistematis & operasional tentang program-program kerja yang akan dilakukannya.  Bukan sebuah gagasan.  Tapi tindakan kerja nyata dengan ide-ide dan inovatif yang membangun.  Semoga rekan-rekan profesi saya yang bekerja di ranah HR & management sepakat dengan kualitas debat capres Pak Jokowi & JK.  Mungkin bagi beliau, membangun sistem dan orang itu penting.  Saya sepakat dengan tindakan tersebut. Kenapa?  Karena saya praktisi HR & Management maka saya akan mencoba menjelaskan secara praktis.
Sistem itu apa sih? secara sederhana sistem adalah seperangkat/aturan/aturan main/prosedur/hasil rancangan.  Ketika belum ada sistem yang baku/standar maka orang akan bekerja/berperilaku sesuai dengan sendirinya tanpa ada tujuan yang jelas, aturan yang jelas dan otomatis ouputnya tidak terukur dan sebuah permasalahan yang tanpa sistem jelas akan menjadi berlarut-larut.
Namun dengan adanya sistem yang baku dan jelas orang akan bekerja sesuai dengan sistem tersebut.  Sesuai dengan aturan-aturan yang ada.  Orang akan merasa nyaman, aman dan optimal dan pencapaian targetnya menjadi terukur dan realistis.

Contoh sederhananya adalah ketika kita makan di sebuah restoran tanpa adanya sistem yang jelas kita tidak akan tahu apa saja menunya, bagaimana ordernya, dimana duduknya, dimana toiletnya, berapa output pembayarannya.  Namun jika dengan adanya sistem yang jelas di restoran tersebut, mulai dari pelayan yang menyambut, datang menghampiri, menunjukkan tempat duduk, menyodorkan menu, anda bisa memesan menu sesuai yang ada, anda bisa menghitung target pembayaran dan anda membayarkan sesuai dengan kalkulasi sebelumnya.  Anda keluar dari restoran tersebut, anda merasa puas, merasa terlayani dengan baik dan tidak segan-segan datang kembali.  Terus bagaimana dengan sistem birokrasi di Indonesia yang bisa dibangun oleh jokowi? anda bisa memprediksi sendiri jika birokrasi di Indonesia sama dengan pelayanan sistem di restoran tadi. Menurut anda siapa yang diuntungkan? Dan saya yakin beliau akan bekerja membenahi itu seperti yang sudah dilakukan di birokrasi pemerintahan jakarta meskipun belum semuanya. Tapi itu langkah nyata yang realistis. Dan jika diterapkan dan didukung oleh seluruh kalangan, saya yakin tidak ada celah korupsi, nepotisme, birokrasi akan lebih produktif, dll. Yang patut dipahami bersama adalah dalam membuat sistem itu perlu waktu, prosesnya pun tidak seperti membalikkan tangan, namun harus ada target yang jelas dan bertahap. Pak Jokowi sudah memulainya dan bekerja nyata, terlepas  ada permasalahan beliau selalu mengatakan evaluasi..evaluasi..perbaiki..perbaiki dan eksekusi. Itu konsep “continous improvement” dalam Total Quality Management di perusahaan dengan sistem yang bagus. Untuk penyempurnaan konsep itu, maka Pak Jokowi tidak bisa berjalan sendiri, ketika beliau sudah memulai sistemnya, tinggal bagaimana orang-orang dibawahnya terlibat dan ikut bekerja nyata di lapangan. Jadi jika anda adalah  orang-orang yang mendukung program ini saya yakin anda adalah orang-orang yang bersabar dalam menunggu perubahan sistem yang lebih baik untuk negeri ini. #mariberubah.

3.  Di belakang Pak Jokowi ada PDIP?
Ada beberapa orang memutuskan memilih kandidat satunya karena siapa di balik Jokowi itu.  Tentu saja ada PDIP sebagai partai pengusung Jokowi-JK. Anda tidak perlu takut berlebihan jika yang menjadi sumber apatis anda terhadap pak Jokowi adalah partai tersebut. Yang perlu dicatat adalah saya pun bukan pendukung PDIP, namun saya tidak takut akan isu-isu negatif yang ada di partai tersebut.  Kenapa? Sadarilah bersama bahwa koalisi kubu lawan diisi oleh banyak partai dengan jumlah prosentase suara ataupun parlemen sekitaran lebih dari 60%.  Ingat selain gerindra ada PKS, Golkar, PPP, PAN, dll dan terakhir Demokrat.  Mereka punya kekuatan lebih besar di parlemen.  Jadi jika kebijakan pak Jokowi nanti bertentangan dengan konsitusi ataupun permasalahan lainnya yang anda takutkan saat ini, mari kita kawal, kritisi, dan evaluasi.  Jika terdapat kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan 4 Pilar kebangsaan, para partai koalisi tentu saja sudah tahu apa yang harus dilakukannya.  Secara hitung-hitungan parlemen, koalisi kubu lawan pasti menang.  Tinggal bagaimana mereka mengawasi dan mengontrol dengan baik sesuai dengan fungsional komisi-nya masing-masing.  Sehingga tidak ada celah untuk inkonstitusi dalam pemerintahan pak Jokowi nanti.  Jadi apa yang mesti ditakutkan lagi? Mari berpikir terbuka dan optimis atas kerja nyata pak Jokowi nanti yang Insya Alloh akan menjalankan tanggungjawabnya kepada bangsa dan negara Indonesia. Dan yang membuat saya tenang adalah disamping Pak Jokowi berdiri pak Jusuf Kalla yang memiliki pengalaman di pemerintahan. Beliau bisa menjadi partner sharing dalam menyusun kebijakan pro-rakyat. Jadi beliau akan tahu mana kebijakan yang terbaik untuk pemerintahan yang sehat di Indonesia.   
Ketakutan dengan ketua PDIP yang dulu katanya menjual beberapa aset negara? Saya baca berita bahwa setelah terhembus isu tersebut kubu PDIP dan juga pak Jokowi pun sudah melakukan klarifikasi secara ekonomi mengenai penjualan aset tersebut.  Dan saya menghormati klarifikasi tersebut secara cerdas. Jadi jika anda masih mempermasalahkan hal tersebut, berarti anda cenderung masih dalam masa trauma masa lalu.  Sedangkan proses trauma yang berkepanjangan tidak bagus untuk kesehatan jiwa manusia ataupun untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Proses trauma akan sangat sulit membuat kita berpikiran terbuka dan optimis, justru anda akan semakin pesimis. #mariberubah

Ketakutan terhadap ketua PDIP yang nanti bakal mempengaruhi pemerintahannya pak Jokowi atau berhembus isu bahwa capres boneka? Saya rasa itu ketakutan yang berlebihan. Dan jika anda mencermati debat pertama capres bahwa Pak Jokowi & JK sudah mengklarifikasi di kalimat pembuka bahwa kami satu-satunya pasangan capres-cawapres dari kalangan sipil bukan dari elite partai, mereka bekerja dan akan mengabdi untuk rakyat indonesia. Tidak cukup? dari ketua dan keluarga ketua partai pun sudah melakukan klarifikasi di setiap acara kampanye untuk menepis isu tersebut.  Pandangan sisi lainnya adalah sejak ditinggalkan oleh sang suami mungkin ambisi dan rasa legowo beliau terlihat dengan tidak mencalonkan diri kembali menjadi capres. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi dalam keluarga anda? Jika anda punya sepasang orang tua di rumah yang anda cintai, dan ketika ibu anda harus ditinggalkan dulu oleh sang suami bagaimana perasaan ibu anda? Hal yang dirasakan oleh dia adalah kehilangan. Hal yang dipikirkan dia adalah kehidupan selanjutnya. Hal yang diinginkan beliau ketenangan. Hal yang dilakukan dia adalah memperbaiki sisi kehidupan di dalam dirinya.  Sangat sulit memikirkan hal-hal diluar permasalahan dirinya. Jika anda berposisi sebagai sang anak, minimal yang anda katakan adalah “sudahlah, Bu, mulai sekarang tidak perlu terlalu berat memikirkan pekerjaan. Mungkin waktunya ibu istirahat, menata kehidupan dirumah dengan kenangan-kenangan yang ditinggalkan Bapak. Tidakkah Hal itu manusiawi sebuah proses yang mungkin dialami oleh setiap manusia. Tidak ada salahnya kan jika kita berpikiran terbuka seperti itu dalam menyikapi sisi kemanusiaan dari seorang ibu yang kehilangan orang yang dicintai.

4.  Gerakkan revolusi mental
Banyak yang memandang sebelah mata tentang gerakkan revolusi mental. Namun hal tersebut bagi saya sangat penting melihat fenomena kehidupan di masyarakat indonesia saat ini.  Apa sih itu revolusi mental? bukan berarti saya sebagai psikolog yang sering memakai istilah kesehatan mental dikaitkan dengan kejiwaan seseorang? karena tidak sesempit itu.  Revolusi mental adalah gerakan moral untuk memperbaiki kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan universal.  Pemahaman tersebut dijelaskan secara tertulis oleh Antropolog UI, Bapak Bachtiar Alam. Secara empirik beliau mengungkapkan makna revolusi mental sebagai bagian dari proses pemikiran Mahatma Gandi dan K.H. Abdurahman Wahid dalam menyikapi transformasi proses mental.   
Revolusi yang digagas Pak Jokowi-JK saya rasa sudah tepat dengan akar konsep yang jelas berdasarkan pembentukan karakter kuat pada diri masyarakat Indonesia ini untuk menopang kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan.  Tiga dimensi pembangunan mental manusia menurut Jokowi & JK (2014) yang digagas secara operasional adalah Sehat, Cerdas, dan Berkepribadian.  Sehat itu berada di area secara fisik dan mental.  Cerdas itu pembangunan di area kognitif manusia. Berkepribadian berada di area karakteristik seseorang yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku manusia.  Dalam ilmu psikologi apa yang digagas oleh Pak Jokowi-JK sudah mewakili dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.  Dan ketiga aspek itu saling mempengaruhi dalam membentuk perilaku yang dimunculkan seseorang.  Bukannya urusan perut/kesejahteraan lebih penting daripada revolusi mental? Memang hal itu penting, namun tidakkah anda terpikir hari ini akan makan nasi ayam, kemudian besok makan nasi ayam, dan besok makan nasi ayam lagi.  Terpikirkah anda ingin makan yang lebih lagi seperti nasi rendang, nasi kebuli, sate kambing, iga sapi, dll? Jika anda tidak menyadari pentingnnya revolusi mental, maka anda akan hanya terpikir untuk satu tujuan yang bersifat stagnan (tetap) dan apabila anda menggerakkan proses mental anda secara positif maka ada keinginan-keinginan untuk lebih (tidak sekedar nasi ayam), ada pemikiran-pemikiran di luar kebiasaan, anda mendayagunakan aspek kecerdasan anda untuk menemukan usaha-usaha mendapatkan nasi kebuli, sate ayam, dll. Dan karena bersumber pada kepribadian yang positif maka cara anda mendapatkan itu tentu saja didasari dengan kepribadian yang baik dan perilaku yang beretika. Sama halnya ketika anda menginginkan kesejahteraan, bukan berarti harus berdiam diri, tapi bergerak, berinovasi dan berusaha secara positif dengan perilaku-perilaku yang positif, dalam Islam Insya Alloh akan diberikan kemudahan dan keberkahan dalam kesejahteraan kehidupan jika itu dengan niat baik dan illahi. Itu contoh sederhananya.
Bagaimana penerapan revolusi mental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?  Hal ini dapat dilakukan dalam pembentukan karakteristik yang kuat dalam diri anak melalui keluarga. Peran orang tua sangat penting bukan hanya dalam pencapaian cita-cita saja seperti yang terjadi saat ini tanpa melihat pembentukan karakteristik & perilaku yang dapat mendukung tercapainya cita-cita tersebut.  Sehingga terkadang tuntutan orang tua tidak sesuai dengan pencapaian anak.  Akibatnya terjadi tekanan psikologis, keluarga tidak harmonis, salah memilih jurusan, kenakalan remaja, narkoba, dll. Dan itu jelas akan menghasilkan generasi yang tidak berkualitas. Peran PAUD juga sangat penting dalam membentuk kepribadian anak.  Jika kita benar-benar memaknai pentingnya pembangunan karakter mental tersebut dari lingkungan awal anak, maka generasi tangguh akan dapat dihasilkan oleh bangsa ini di masa akan datang.  Dapat menurunkan perilaku pelanggaran lalu lintas, pembajakan, plagiat, tawuran,  bullying, korupsi, tidak produktif, dan masih banyak hal-hal lainnya. Dengan sendirinya kepemimpinan karakteristik dapat terbentuk dalam diri seorang anak. Peran pendidikan di sekolah sangat penting dalam mendidik dan membangun generasi masa depan dengan mental yang berbudi pekerti luhur dan tangguh sesuai dengan 4 pilar kebangsaan. #mariberubah

Dalam sudut pandang industri, ternyata revolusi mental juga efektif diterapkan kepada karyawan di dalam organisasi.  Referensi yang saya dapatkan dari disertasinya Chapagain (2004) menuliskan bahwa teori revolusi mental yang dikemukakan F. Taylor mengungkapkan bahwa proses revolusi mental dapat membangun kapasitas sumber daya manusia di dalam organisasi menjadi produktif. Revolusi mental dapat mempengaruhi peningkatan attitude (sikap) kerja terhadap pekerjaannya, kolega, serta atasannya. Penekanan terhadap revolusi yang bersifat positif dapat membangun sumber daya manusia  kapasitas manusia itu sendiri dan pengembangan sosial.

Saya melihat bahwa kekayaan sebenarnya yang dimiliki bangsa indonesia bukan hanya kekayaan alam saja, namun yang terbesar adalah human resource (people/orang). Anda masih ragu? Pertama, sejarah mencatat perang kemerdekaan, para pejuang serentak suka rela tergerak mengangkat bambu runcing.  Bagaimana arek-arek suroboyo mampu mengusir tentara sekutu dengan persenjataan yang jauh hebat dari kita.  Mereka TERGERAK untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan.  Kedua, sejarah mencatat bahwa kita pernah menjadi negara agraris terbesar di Asia setelah belum lama kita merdeka.  Tidak ada yang memerintahkan masyarakat waktu itu untuk harus menjadi petani.  Pada umumnya kakek kita dulu TERGERAK untuk mengolah lahan pertanian dengan sendirinya.  Tidak ada yang menginstruksikan jam ke sawah pukul 06.00 – 18.00. Tidak ada pengharapan berapa upah yang didapat hari itu. Pada dasarnya mereka TERGERAK, tergerak setelah shubuh mereka mulai ke sawah dengan membawa cangkul.  Tergerak untuk bergotong royong menggarap sawah secara bersama-sama dan bergantian.  Tergerak untuk menghantarkan air kendi & makanan ke gubug kecil dipinggir sawah garapan.  Tergerak menunggu sampai sang fajar tenggelam baru meninggalkan garapan.  Apa yang terjadi? Indonesia swasembada beras tanpa menggantungkan kepada bangsa lain. Sekali lagi “resource” kita sangat hebat. Revolusi mental untuk human resources kita sangat tepat.  Bukan sebagai generasi yang dapat menikmati kekayaan alam untuk dirinya sendiri ataupun golongannya, namun generasi yang bisa memberdayakan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat dan merata. Inilah proses sesungguhnya yang harus diterapkan sebelum menjadi macan asia, TIDAK secara instan.  Namun secara sistematis Pak Jokowi-JK sudah mampu meletakan pondasi yang kuat dan sudah bisa mengukur hasil (output) yang bisa didapatkan tadi.

Penduduk Indonesia terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduknya sekitar 220 juta orang lebih.  Anda bayangkan jika sebagian besar dari mereka berkarya dengan UKM-UKM yang mereka kembangkan. Atau 80 % penduduk yang berjumlah 220 juta lebih itu membeli semua produk UKM-UKM dalam negeri dan produk-produk dalam negeri lainnya secara merata, maka ekonomi kita akan bisa lebih besar dari memory negara agraris dulu.  Tapi apa yang terjadi sekarang di masyarakat? masih bangga dengan produk-produk luar negeri, masih bangga dengan perusahaan asing, dll.  Indonesia jadi pasar ekonomi asing dengan salah satu konsumtif tertinggi di dunia. Produk asing banyak yang dijual disini.  Dan produk semahal apapun dari luar negeri jika dijual di Indonesia pasti ada yang beli.  Handphone keluar terbaru pasti orang berbondong-bondong antri pembelinya. Justru yang mendapatkan keuntungan bukan kita sebagai rakyat indonesia, tapi sejumlah group atau rezim kapital yang memiliki uang dan kekuasaan.  Saya yakin dan realistis bahwa yang dibenahi pak Jokowi adalah sistem dan orang-nya.  Bukan kelompoknya atau rezim yang berkuasa di belakang koalisinya.  Bukan seperti pemerintah sebelum-sebelumnya, yang sebagian pos-pos penting dalam kabinet telah dikuasai kelompok ataupun golongan tertentu.  Mungkin saya nilai mereka nyaman, dan orang yang nyaman dalam situasi tertentu akan enggan melepaskan kursinya kepada orang/kelompok lain.  Yang dibangun pak Jokowi-Jk saya prediksikan adalah ekonomi berbasis kerakyatan, Nasionalisasi perusahaan melalui BUMN dan BUMD, bukan nasionalisasi rezim kelompok tertentu yang sudah punya banyak group perusahaan. Ingat jangan terkecoh, mohon dicermati, renungkan sejenak. #mariberubah.

Saya rasa ini yang bisa saya bagi dalam tulisan blog ini. Tidak ada motif dan maksud tersembunyi. Saya tekankan saya bukan orang politik dan saya bukan produk politik. Namun saya mencintai negeri ini, INDONESIA. Sangat disayangkan jika ke-Bhinekaan Tunggal Ika dikikis oleh permusuhan, pertentangan dan hal-hal yang berbau SARA.  Saya mencoba tidak ingin mencederai dasar negara kita, PANCASILA.  Sebuah lambang garuda pancasila, dengan 5 (lima) sendi penopang kehidupan berbangsa dan bernegara, berwarna kuning ke-Emasan, dan selalu membawa semboyan BHINEKA TUNGGAL IKA, “walaupun berbeda-beda tetapi kita tetap satu jua”.  Apalah arti ke-Bhinekaan yang terselimuti warna lain selain kuning emas dengan tanpa tulisan jelas dalam semboyannya.  Keberagaman akan pudar dengan pertentangan dan kebencian. pilih 1 (satu) atau 2 (dua) yang terpenting jangan lupakan 3 (tiga) yaitu “persatuan Indonesia”. Orang-orang hebat negeri ini saya yakin selalu menaruh makna pancasila di hati masing-masing dan warna merah di titik darah perjuangan negeri ini.  Merah untuk simbol berani dan putih untuk simbol suci.  Itu hanya terdapat dalam sang Saka Merah Putih.
Sekali lagi saya ungkapkan bahwa tulisan ini bukan berarti saya mempengaruhi, menyinggung ataupun provokatif secara “jurnalistik”, namun saya lebih berbagi pemahaman melalui analogi dan tujuan nyata dari seseorang yang memiliki kemampuan memimpin untuk negeri tercinta ini, INDONESIA.  Tulisan ini tidak untuk diperdebatkan ataupun diperkuat dengan argument-argument yang justru mencederai makna pesta demokrasi.  Semoga saya tidak termasuk dalam golongan itu dan saya tidak ingin merespon dengan perdebatan-perdebatan yang mereka anggap lebih cerdas. Saya hanya berpikir sederhana, realistik dan obyektif untuk orang-orang yang menghormati ke-Bhinekaan. #mariberubah luangkan sejenak untuk refleksi diri dan pilihlah sesuai nurani anda mana yang realistis dalam membangun negeri ini. SEBARKAN !!!

Salam persahabatan dan kedamaian untuk saudara semua. Apapun hasilnya nanti, jika pilihan kita tidak terpilih, maka berlapangdada, legowo, nerimo, dan mari kita kawal, kritisi dan evaluasi untuk lima tahun mendatang.

   @rocky_valentino

 Referensi
  1. Bachtiar, A. (2014). Antropolog UI: Revolusi Mental Adalah Konsep Mahatma Gandhi. Diunduh pada http://indonesia-baru.liputan6.com.
  2. Chapagain, C.P. (2004). Human resources capacity building through Appreciative Inquiry Approach in Achieving Developmental Goal.  Human Resources Management. USA: Medison University.
  3. Biswas. D. (2012).  Study Of Employees’ Mental Revolution By Implementation Of Bussiness Process Reengeneering By Human Rsources Department. International Journal of Organizational Behaviour & Management Perspectives © Pezzottaite Journals, Vol 1 (2).
  4. Jokowi & Kalla, J. (2014). Revolusi Mental & Pembangunan Manusia dan Pembangunan Sosial. Diunduh pada http:// jkw4p.com/download/revolusi_mental.pdf.
  5. Nelson, D. (1992). A Mental Revolution: Scientific Management since Taylor. The Ohio State University Press.
  6. Peterson. (2000).  The Future Optimism.  Journal of American Psychologist Association.  Vol. 55, 44-55.
  7. Seligman. (2002).  Authentic Happiness.  Bandung: Mizan.